Miris! Makanan Bergizi Siswa SMPN 1 Bengkulu Selatan Berujung Jadi Pakan Ayam

Bengkulu Selatan P2NAPAS NEWS — Program pemberian makanan bergizi bagi siswa di SMPN 1 Bengkulu Selatan menjadi sorotan setelah adanya temuan makanan yang tidak dihabiskan oleh siswa dan disebut berakhir sebagai pakan ternak.
Persoalan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pelaksanaan program, khususnya terkait kesesuaian menu dengan selera siswa, ukuran porsi,
kualitas makanan, hingga mekanisme pengawasan setelah makanan diterima oleh penerima manfaat.
Berdasarkan hasil penelusuran lapangan, sejumlah siswa mengaku tidak selalu menghabiskan makanan yang diberikan melalui Dapur SPPG Kayu Kunyit.
Sebagian siswa hanya menyantap makanan dalam jumlah tertentu, sementara sebagian lainnya disebut tidak mengonsumsi makanan karena merasa menu yang disediakan kurang sesuai dengan selera.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan persoalan lain karena terdapat makanan tersisa yang tidak lagi dikonsumsi oleh siswa.Sisa Makanan Dibawa Pulang
Kepala SMPN 1 Bengkulu Selatan, Liasrawati, M.Pd., mengakui adanya makanan tersisa yang kemudian dibawa pulang oleh oknum guru untuk dimanfaatkan sebagai makanan ayam di rumah.
Pengakuan tersebut menjadi perhatian karena makanan yang disediakan melalui program pemerintah pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa sebagai penerima manfaat.Namun, keberadaan sisa makanan tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai pelanggaran ataupun kerugian negara.
Untuk memastikan ada atau tidaknya persoalan dalam pengelolaan anggaran, diperlukan pemeriksaan terhadap mekanisme pengadaan, jumlah porsi, nilai anggaran, distribusi, standar menu, serta pertanggungjawaban program.
SPPG: Pelaksanaan Mengacu Juklak dan Juknis
Sementara itu, Ketua SPPG Kayu Kunyit, Kuriawan, menyampaikan bahwa pelaksanaan penyediaan makanan telah mengacu pada petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis), termasuk berdasarkan arahan tenaga ahli gizi.Mitra SPPG,
Mitra Oktomi Harelna, juga membenarkan adanya makanan tersisa yang dibawa oleh guru dan dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Penjelasan tersebut menjadi penting untuk didalami lebih lanjut, terutama mengenai mekanisme evaluasi ketika makanan yang telah disediakan tidak dikonsumsi secara optimal oleh siswa.
Efektivitas Program Jadi PertanyaanProgram makanan bergizi dirancang untuk memberikan manfaat langsung kepada anak-anak. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak makanan yang diproduksi dan dibagikan, tetapi juga sejauh mana makanan tersebut benar-benar dikonsumsi dan memberikan manfaat gizi bagi penerima.
Jika dalam pelaksanaannya ditemukan makanan yang berulang kali tersisa dalam jumlah signifikan, kondisi tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi.
Apakah menu kurang sesuai dengan selera siswa? Apakah porsinya terlalu banyak? Apakah kualitas dan cita rasa makanan perlu diperbaiki? Atau terdapat persoalan lain dalam proses distribusi?Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar program tidak hanya memenuhi aspek administratif, tetapi juga mencapai tujuan utamanya.
Evaluasi dan Pengawasan Diperlukan
Sejumlah pihak mendorong agar pemerintah daerah bersama instansi yang memiliki kewenangan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program makanan bergizi di SMPN 1 Bengkulu Selatan dan Dapur SPPG Kayu Kunyit.
Evaluasi juga penting dilakukan secara proporsional terhadap SPPG lainnya apabila ditemukan persoalan serupa.Pengawasan diperlukan untuk memastikan makanan yang telah dianggarkan pemerintah benar-benar memberikan manfaat maksimal kepada siswa penerima.
Penggunaan makanan tersisa sebagai pakan ternak juga perlu dilihat dalam konteks tata kelola program. Apabila memang terdapat prosedur khusus mengenai penanganan makanan yang tidak dikonsumsi, prosedur tersebut perlu dijelaskan secara transparan kepada publik.
Jangan Berhenti pada Persoalan Sisa Makanan
Persoalan ini sebaiknya tidak berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang membawa makanan dan untuk apa makanan tersebut digunakan.
Hal yang lebih penting adalah memastikan apakah perencanaan dan pelaksanaan program telah berjalan efektif, apakah makanan sesuai kebutuhan siswa, serta apakah terdapat mekanisme pengawasan yang mampu mencegah terjadinya pemborosan.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa setiap anggaran yang dialokasikan untuk pemenuhan gizi anak benar-benar menghasilkan manfaat sesuai tujuan program.
Sebab, ketika makanan yang diperuntukkan bagi siswa justru banyak tersisa, persoalan utamanya bukan sekadar makanan yang tidak habis, melainkan seberapa efektif program tersebut dirasakan oleh penerima manfaat.
P2NAPAS News membuka ruang hak jawab dan hak koreksi bagi pihak SPPG Kayu Kunyit, SMPN 1 Bengkulu Selatan, pemerintah daerah, maupun pihak lain yang berkepentingan untuk memberikan klarifikasi atau informasi tambahan.
Pemberitaan ini merupakan laporan berdasarkan hasil penelusuran dan keterangan pihak-pihak yang ditemui di lapangan. P2NAPAS News tidak menyimpulkan adanya tindak pidana atau kerugian negara tanpa adanya hasil pemeriksaan resmi dari lembaga yang berwenang.
(Iklandiyanto)


